Lompat ke konten (Tekan Enter)
medical.internotes

medical.internotes

Catatan Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam

  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi
  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Mei 2020

Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaire

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 31 Mei 202021 Mei 2020
Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaire (GERD-Q) / Kuesioner GERD

Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaire (GERD-Q)

Kuesioner ini sangat membantu dalam skrining pasien GERD. Sesuai alur diagnostik GERD di pelayanan primer, pasien yang diduga menderita GERD dinilai dulu menggunakan kuesioner ini.

Sumber : Revisi Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) di Indonesia. 2013

1

White Coat & Masked Hypertension

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 30 Mei 202021 Mei 2020

White Coat & Masked Hypertension

White Coat & Masked Hypertension

White Coat & Masked Hypertension

Pasien dengan white coat hypertension memiliki risiko kardiovaskuler yang sedang. Untuk mendiagnosis hipertensi ini, dibutuhkan konfirmasi dengan mengulang pengukuran tekanan darah di luar pusat pelayanan kesehatan. Jika risiko kardiovaskuler rendah dan tidak ada kerusakan organ karena hipertensi (hypertension-mediated organ damage/ HMOD), tidak dibutuhkan terapi medikamentosa.

Pasien dengan masked hypertension memiliki risiko kardiovaskuler yang sama dengan sustained hypertension. Diagnosis hipertensi ini membutuhkan konfirmasi dengan mengulang pengukuran tekanan darah di dalam dan luar pusat pelayanan kesehatan. Masked hypertension membutuhkan terapi medikamentosa.

Sumber: ISH Global Hypertension Practice Guidelines, 2020

1

Diagnosis dan Tatalaksana Hipertensi Emergensi

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 28 Mei 202021 Mei 2020

Bagaimana cara diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi

Diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Hipertensi emergensi merupakan bagian dari krisis hipertensi. Hipertensi emergensi didefinisikan tekanan darah yang sangat tinggi (TDS > 180 TDD > 120 mmHg) disertai kelainan/ kerusakan target organ yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan dengan segera agar dapat mencegah atau membatasi kerusakan target organ yang terjadi. Yang membedakannya dengan hipertensi urgensi adalah pada hipertensi urgensi tidak disertai kelainan/ kerusakan organ target 1,2.

Gambaran klinis hipertensi emergensi (diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi)

Diagnosis hipertensi emergensi

Diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi harus dilakukan dengan cepat. Manifestasi klinis hipertensi emergensi merupakan gejala dari organ target yang meliputi nyeri dada dan sesak nafas pada gangguan jantung dan diseksi aorta, mata kabur pada edema papila mata, sakit kepala hebat, gangguan kesadaran dan lateralisasi pada gangguan otak, gagal ginjal akut pada gangguan ginjal.

Selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium ikut membantu diagnosis, misalnya urin dapat menunjukkan proteinuria, hematuria dan silinder, peningkatan ureum dan kreatinin pada keterlibatan ginjal.

Pemeriksaan penunjang seperti EKG dan USG ginjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien. Diagnosis hipertensi emergensi ditegakkan dari tinggi nya tekanan darah dan tanda keterlibatan organ target 1.

Kerusakan target organ pada hipertensi emergensi (diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi)

Tatalaksana hipertensi emergensi

Tujuan penatalaksanaan krisis hipertensi tergantung dari klasifikasinya (emergensi atau urgensi) dan kondisi khusus yang menyertainya. Pada kondisi – kondisi khusus, mempunyai target tatalaksana yang berbeda, termasuk target pencapaian tekanan darah, modalitas yang digunakan, dan parameter yang ingin dicapai. Dalam berbagai guideline, kondisi khusus ini diistilahkaan dengan “compeling conditions”.

Untuk terapi krisis hipertensi secara umum, pasien harus diklasifikasikan menjadi urgensi atau emergensi. Hipertensi urgensi membutuhkan terapi oral inisial, re-inisial, modifikasi  atau titrasi, dan biasanya tidak membutuhkan perawatan ICU bahkan tidak perlu rawat inap di rumah sakit.

Target terapi hipertensi urgensi adalah penurunan tekanan darah secara bertahap  selama 24-48 jam untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan. Kesalahan yang sering terjadi dalam tatalaksana hipertensi urgensi adalah pemberian terapi yang terlalu agresif yang justru dapat berakibat buruk bagi pasien 3.

Diagnosis dan Tatalaksana Krisis Hipertensi

Target diagnosis dan tatalaksana hipertensi emergensi

Dalam tatalaksana hipertensi emergensi, harus diidentifikasi terlebih dahulu apakah terdapat compeling condition pada pasien. Jika tidak ada, tujuan terapi adalah menurunkan Mean Arterial Pressure (MAP) 25% dalam 1 jam pertama pemberian terapi. Penurunan yang lebih dari 25%, berkaitan erat dengan kejadian iskemia cerebral.

Jika dalam 1 jam pertama terapi (dalam penurunan 25% MAP) muncul tanda – tanda gangguan neurologi, terapi harus dihentikan. Jika dalam 1 jam target terapi tercapai, penurunan teakanan darah selanjutnya dilakukan secara bertahap 3.

Target penurunan tekanan darah pada hipertensi emergensi
Pilihan obat antihipertensi intravena untuk penatalaksanaan hipertensi emergensi

Daftar Pustaka

  1. Roesma, J. Krisis Hipertensi. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima. Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
  2.  Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, Casey DE Jr, Collins KJ, Dennison C et al. Highlights from the 2017g uideline for the prevention, detection , evaluation and  management of high blood pressure in adults :  a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. 2017. American Heart Association.
  3. Benken ST. Hypertensive Emergencies. Dalam : Wanek MR, Wright M. Editor. Medical Issues in the ICU Edisi 1. CCSAP, 2018.
  4. Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, Casey DE Jr, Collins KJ, Dennison C et al. 2017g uideline for the prevention, detection , evaluation and  management of high blood pressure in adults :  a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. 2017. American College of Cardiology.

Hipokalemia dan Cara Koreksinya

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 30 Mei 202019 Mei 2020

Hipokalemia dan Cara Koreksinya

Hipokalemia dan Cara Koreksinya

Kalium merupakan elektrolit dengan peran yang sangat vital. Kelebihan maupun kekurangan kalium akan mengganggu homeostasis dalam tubuh. oelh ebab otu sangat penting menjaga kadar kalium dalam rentang normal.

Disebut hipokalemia bila kadar K plasma kurang dari 3,5 meq/L. Penyebab hipokalemia : (1). Asupan kalium kurang, (2) Shift / perpindahan kalium dari ekstrasel ke intrasel (ex pada : insulin, beta 2 agonis, hipertiroid, latihan berat), dan (3) Ekskresi kalium yang berlebihan (baik lewat ginjal maupun saluran cerna)

Gejala klinis hipokalemia dapat berupa aritmia, kelemahan otot, konstipasi, ileus, nefropati hipokalemia Ipoliuria, nocturia, polidipsia).

Hipokalemia dan cara koreksinya: Untuk melakukan koreksi kalium, harus diperhatikan indikasi-indikasi nya. Untuk lebih jelas, perhatikan gambar di atas.

Sumber : Workshop Gangguan Elektrolit dan Asam Basa. PIT KONKER PERNEFRI. Padang. 2019

1

Profilaksis Tromboemboli Vena (TEV) pada Sepsis

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 30 Mei 202019 Mei 2020

Profilaksis Tromboemboli Vena (TEV) pada Sepsis

Tromboemboli Vena (TEV) dengan manifestasi klinisnya yaitu Deep Vein Thrombosis (DVT) dan Pulmonary Embolism (PE), merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada pasien- pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Sepsis terutama yang disertai dengan hipotensi dan syok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya DVT dan PE. Patogenesis yang mendasari terjadinya TEV pada sepsis diduga terjadi oleh karena berbagai faktor, antara lain: pemakaian obat vasopresor, sedasi, imobilisasi, aktivasi jalur thromboinflamasi, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), dan stasis vena. 1

Profilaksis Tromboemboli Vena (TEV) pada Sepsis - Penilaian risiko TEV PADUA

Skor PADUA

Untuk menentukan risiko kejadian TEV dikembangkan suatu model penilaian risiko yang merupakan suatu sistem skor risiko dan skor stratifikasi risiko kejadian komplikasi TEV. Dengan mengetahui faktor-faktor risiko terjadinya TEV, klinisi diharapkan dapat lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan pasien yang akan diberikan profilaksis. Skor yang dipakai untuk menilai risiko TEV adalah skor PADUA yang dimodifikasi. Model penilaian risiko TEV dengan skor PADUA modifikasi ditunjukkan dalam tabel 1. 2

Skor IMPROVE

Profilaksis TEV diberikan jika nilai skor PADUA modifikasi > 4. Profilaksis farmakologis diberikan jika risiko perdarahan rendah dan profilaksis mekanik diberikan jika risiko perdarahan tinggi. Untuk nilai risiko pedararahan dinilai menggunakan skor IMPROVE (tabel 2) dimana skor > 7 dikategorikan ke risiko tinggi perdarahan. 2

Profilaksis Tromboemboli Vena (TEV) pada Sepsis - Penilaian risiko perdarahan IMPROVE

Profilaksis TEV

Profilaksis Tromboemboli Vena (TEV) pada sepsis harus dipilih dengan tepat. Kontraindikasi untuk pemberian profilaksis farmakologi adalah trombositopenia (trombosit < 50.000 ), gangguan pembekuan darah seperti pada DIC, International normalized ratio (INR), atau activated Partial-Thromboplastin Time (aPTT) > 1,5, perdarahan aktif, stroke perdarahan atau iskemia yang baru, hemofilia A atau B dan penyakit von Willebrand.1,3

Obat-obatan yang digunakan untuk tromboprofilaksis adalah Unfractionated Heparin (UFH) , Low Molecular Weight Heparin ( LMWH), fondaparinux . Pada pasien yang tidak ada kontraindikasi pemberian farmakologi profilaksis, maka :Profilaksi lini pertama adalah enoxaparin 40 mg subkutan setiap 12 jam. Untuk lini kedua digunakan  low dose           7500 unit subkutan setiap 8 jam. Pada pasien denagn Cr Cl < 30 ml/ menit, profilaksi lini pertama nya adalah low dose UFH 5000 unit subkutan setiap 8 jam. Untuk lini kedua pilihannya adalah enoxaparin 30 mg subkutan setiap 24 jam.1

Bila terdapat kontraindikasi pemberian farmakologi profilaksis, maka dapat diberikan mekanikal thromboprophylaxis dengan menggunakan Graduated Compression Stocking (GCS) atau Intermittent Pneumatic Compression (IPC). 1,3

Daftar Pustaka

  1. Hutajulu SVR. Thromboembolism Prophylactic. Dalam : Pangalila FJP, Mansjoer A, editor: Penatalaksanaan Sepsis dan Syok Sepsis, Optimalisasi FASTHUGSBID. Jakarta. Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI). 2017.
  2. Kurnianda J, Darmawan B, Djamaludin N, Setiawan B, Suharti C. Profilaksis Tromboemboli Vena  Pada Medik. Dalam : Tambunan KL, Suharti C, Sukrisman L, Fadjari TH, Setiawan B, editor. Panduan Nasional Tromboemboli Vena. Jakarta. Perhimopunan Trombsosis dan Hemostasis Indonesia. 2018.
  3. Rhodes A, Evans LE, Alhazzani W, Levy MM, Antonelli M, Ferrer R, Kumar A, et al. Surviving sepsis campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock 2016. CCM Journal. 2017. 45(3).

Navigasi pos

Halaman Sebelumnya
Halaman Berikutnya

Tentang Kami

medical.internotes adalah tempat berbagi catatan-catatan kedokteran, terutama ilmu penyakit dalam.

Ikuti Kami

medical.internotes

Kategori

  • Alergi Imunologi (5)
  • Endokrin Metabolik (11)
  • Gastroenterohepatologi (8)
  • Geriatri (1)
  • Ginjal Hipertensi (8)
  • Hematologi Onkologi Medik (5)
  • Kardiologi (1)
  • Presentasi (3)
  • Psikosomatik (1)
  • Pulmonologi (3)
  • Reumatologi (3)
  • Rumus/Skor (17)
  • Tropik Infeksi (11)

Tag

Albumin Antibiotik Artritis Rheumatoid Asites Asma Cairan Dehidrasi Demam Tifoid Dengue Hemorrhagic Fever Diabetes Melitus Diuretik DMARD Dobutamin Dopamin Drip Efusi Pleura Elektrolit GERD GERD Q Hipertensi Hipertensi emergensi Hipertensi urgensi Hipertiroid Hiperventilasi Hipokalemia HIV kalsium Kehamilan Ketoasidosis Diabetikum Kriteria Light Kuesioner Metilprednisolon Norepinefrin Pneumothorax Profilaksis Puasa Rehidrasi Sepsis Sirosis Hepatis Sistem Imun Ulkus Duodenum Ulkus Gaster Ulkus Peptikum Vaksinasi white coat hypertension

Arsip

  • Januari 2026 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Juli 2020 (1)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (42)

Notes Terpopuler

  • Rumus/Skor

    Drip Norepinefrin (dengan syringe pump)

  • Rumus/Skor

    Drip Dobutamin (dengan syringe pump)

  • Ginjal Hipertensi

    Hipokalemia dan Cara Koreksinya

QUICK LINKS

  • Beranda
  • Topik
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Bagikan Situs

© Hak Cipta 2020 | medical.internotes |The Ultralight | Dikembangkan Oleh Rara Theme.Ditenagai oleh WordPress.