Lompat ke konten (Tekan Enter)
medical.internotes

medical.internotes

Catatan Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam

  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi
  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Mei 2020

Barthel Index – Activities of Daily Living

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 3 Juni 202031 Mei 2020

Barthel Index – Activities of Daily Living (ADL Barthel):

NoFungsiSkorKeterangan
1Bowels0Inkontinensia
 1Kadang tak terkendali
  2Terkendali teratur
2Bladder0Inkontinensia
 1Kadang tak terkendali
  2Mandiri
3Grooming0Butuh pertolongan orang lain
 1Mandiri
4Toilet use0Tergantung pertolongan
 1Perlu beberapa pertolongan
  2Mandiri
5Feeding0Tidak mampu
 1Perlu pertolongan
  2Mandiri
6Transfer0Tidak mampu
 1Perlu banyak bantuan
  2Perlu sedikit bantuan
  3Mandiri
7Mobility0Imobilitas
 1Tergantung kursi roda
  2Berjalan dengan bantuan
  3Mandiri
8Dressing0Tergantung orang lain
 1Sebagian dibantu
  2Mandiri
9Stairs0Tidak mampu
 1Butuh pertolongan
  2Mandiri
10Bathing0Tergantung orang lain
 1Mandiri

Barthel Index – Activities of Daily Living

Interpretasi:

20: Mandiri

12 – 19: Ketergantungan ringan

9 – 11: Ketergantungan sedang

5 – 8: Ketergantungan berat

0 – 4: Ketergantungan total

Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Hiperventilasi

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 31 Mei 202031 Mei 2020

Sindrom Hiperventilasi

Sindrom hiperventilasi relatif sering ditemukan oleh dokter di ruangan gawat darurat. Sindrom hiperventilasi didefinisikan sebagai keadaan ventilasi berlebihan yang menyebabkan perubahan hemodinamik dan kimia sehingga menimbulkan berbagai gejala. Diagnosis dan tatalaksana sindrom hiperventilasi harus dilakukan dengan tepat.

Epidemiologi

Gejala sindrom hiperventilasi dan gangguan panik saling tumpang tindih. Gejala hiperventilasi ditemukan pada 50% pasien dengan gangguan panik dan 60% pasien agorafobia. Di Amerika serikat, sindroma hiperventilasi ditemukan pada 10%  pasien penyakit dalam. Sedangkan data di indonesia belum ada. Perempuan lebih banyak menderita gangguan ini dibanding pria dengan rasio 7:1. Hiperventilasi dapat terjadi pada semua usia dan tersering 15-55 tahun.

Gejala klinis

Parestesia

Khas sekali ialah keluhan seperti kesemutan pada tangan -tangan (terutama ujung-ujung jari) dan kaki. Seringkali parestesia merupakan gejala satu-satunya, yang membawa pasien ke dokter. Sering juga terasa gatal, menggelitik di sekitar mulut, terutama di bibir, seringkali juga dilidah.

Gejala-gejala sentral

Seringkali terjadi gangguan-gangguan penglihatan dan perasaaan enteng seperti melayang dan penglihatan kabur yang dikenal sebagai blurry eyes. Disamping itu pasien mengeluh tentang bingung, sakit kepala dan pusing.

Keluhan pernafasan

Umumnya pasien mengeluh sesak nafas walaupun tanda hiperventilasinya tidak jelas. Keluhan sesak ini biasanya terjadi setelah kunjungan dokter. Tidak jarang ada takipnea, tetapi sering ditutupi dengan berulang-ulang menarik nafas panjang, menguap dan mendengus, kadang-kadang dengan batuk kering terpotong-potong. Keluhan-keluhan tentang kekurangan udara dan keharusan untuk napas panjang. Disertai dengan rasa sesak, sempit di dada (rasa seperti terikat) atau perasaan tidak dapat bernafas bebas, selalu diutarakan.

Keluhan jantung

Hiperventilasi tidak jarang disertai dengan keluhan yang menyerupai angina pektoris, yang juga ditemukan pada kelainan fungsional jantung dan sirkulasi. Jadi, kombinasi sindrom hiperventilasi dengan sindrom kardiovaskular fungsional (effort syndrome, fobia jantung, irritable heart) sering juga terjadi perubahan dari gejala sindrom hiperventilasi menjadi sindrom kardiovaskuler fungsional (gangguan jantung fungsional)

Keluhan umum

Seringkali pasien mengeluh tentang kaki tangan dingin yang sangat mengganggu, hampir selalu merasa lelah, lemas, mengantuk dan sangat sensitif terhadap cuaca.

Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Hiperventilasi

Diagnosis sindrom hiperventilasi

Yang sangat penting untuk diagnosis ialah menemukan perubahan jenis pernafasan, yaitu pernafasan dada dengan bantuan pernafasan abdominal yang lemah atau tanpa pernafasan abdominal. Dengan ciri pernafasan ini dokter dapat menduga adanya sindrom hiperventilasi juga dalam saat-saat bebas serangan, dimana pasien hanya mengalami keluhan-keluhan atipik yang tersebut diatas.

Tes hiperventilasi : pada sindrom hiperventilasi yang laten, bila pasien disuruh bernafas cepat, dalam beberapa menit timbul keluhan-keluhan kesemutan di jari-jari tangan dan kaki. Kejang di jari-jari dan mulut. Pusing, penglihatan gelap, berdebar-debar jantung, rasa takut dan sebagainya.

Seperti pada semua sindrom fungsional , disini diagnosis juga tidak boleh dibuat hanya dengan menyisihkan penyakit organis, melainkan harus juga ditemukan gejala-gejala psikologis yang positif.

Tatalaksana sindrom hiperventilasi

  • Pasien disuruh bernafas (inspirasi dan ekspirasi) ke dalam sungkup kantong plastik bila didapatkan tanda alkalosis agar pCO2 dalam darah naik.
  • Suntikan 10 cc larutan kalsium glukonas 10% intravena mempunyai efek plasebo. Pasien merasa hangat dan enak, tetapi kadar ion kalsium tidak akan naik.
  • Belajar bernafas torako-abdominal dengan menggerakkan diafragma.
  • Psikoterapi : membantu menyelesaikan masalah-masalah emosional pada pasien, termasuk melakukan terapi perilaku (cognitif behavioral therapy).
  • Karena hiperventilasi sering merupakan bagian dari serangan panik (panic disorder), maka pemberian obat yang tepat ialah golongan benzodiazepin atau golongan  SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor).

Klasifikasi dan Tatalaksana Pneumotoraks

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 31 Mei 202031 Mei 2020

Klasifikasi dan tatalaksana pneumotoraks.

Klasifikasi dan Tatalaksana Pneumotoraks

Algoritma tatalaksana pneumotoraks spontan:

Algoritma tatalaksana pneumotoraks spontan

Klasifikasi dan Tatalaksana Pneumotoraks

Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Dengan adanya udara dalam rongga pleura tersebut, maka akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru tidak dapat mengembang dengan maksimal sebagaimana biasanya ketika bernapas. Pneumotoraks dapat terjadi baik secara spontan maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik.

Pneumotoraks spontan primer

Pneumotoraks spontan primer (PSP) terjadi karena ruptur spontan dari bleb subpleura atau bula. Penelitian secara patologis membuktikan bahwa pada pasien pneumotoraks spontan yang parunya direseksi tampak adanya satu atau dua ruang berisi udara dalam bentuk bleb dan bula. Bula merupakan kantong yang dibatasi oleh plura fibrotik yang menebal, sebagian oleh jaringan fibrosa dan sebagian lagi oleh jaringan paru yang emfisematous. Bleb terbentuk dari suatu alveoli yang pecah melalui jaringan interstisial ke dalam lapisan fibrosa tipis pleura viseralis yang kemudian berkumpul dalam bentuk kista.

Mekanisme terbentuk blem dan kista belum diketahui. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa terjadi kerusakan pada apek paru berhubungan dengan iskemia atau peningkatan distensi alveolidaerah apek paru akibat tekanan pleura yang lebih negatif. Pada PSP, pecahnya alveoli berhubungan dengan obstruksi check valva pada saluran nafas kecil sehingga timbul distensi ruang udara di bagian distalnya. Obstruksi jalan nafas bisa diakibatkan oleh penumpukan mukus dalam bronkiolus baik oleh infeksi dan non infeksi.

Pneumotoraks spontan sekunder

Patogenesis Pneumotoraks Spontan Sekunder (PSS) terjadi karena pecahnya bleb atau bula subpleura dan sering berhubungan dengan penyakit paru yang mendasarinya. Penyebabnya multifaktorial, umumnya terjadi akibat komplikasi penyakit PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), asma, fibrokistik paru, tuberkulosis, pneumonia, juga disebakan oleh rheumatoid arthritis.

Penatalaksanaan

Tujuan utama penatalaksanaan pneumotoraks adalah untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.

Pada prinsipnya, penatalaksanaan pneumotoraks adalah:

  • Observasi dan pemberian O2
  • Tindakan dekompresi
  • Torakoskopi
  • Torakotomi
  • Tindakan bedah

Alur penatalaksanaan dapat dilihat pada gambar di atas.

Daftar Pustaka

  • Hisyam, B. Budiono, E. Pneumotoraks. Dalam : Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus, Simadibrata. Setiati, Siti (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi VI. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2014
  • Kelly AM, Druda D. Comparison of size classification of primary spontaneous pneumothorax by three international guidelines: a case for international consensus? Respiratory Med. 2008;102.
  • MacDuff A, Arnold A, Harvey J. Management of spontaneous pneumothorax: British Thoracic Society pleural disease guidelines 2010. Thorax. 2010

Mekanisme dan Tempat Kerja Diuretik

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 31 Mei 202031 Mei 2020

Mekanisme dan tempat kerja diuretik.

Mekanisme dan Tempat Kerja Diuretik

Mekanisme dan Tempat Kerja Diuretik

Diuretik meningkatkan output urin. Sebagian besar diuretik juga meningkatkan ekskresi solut melalui urin, seperti natrium dan klorida. Sebagian besar diuretik yang digunakan secara klinis bekerja dengan menurunkan reabsrobsi natrium di tubulus ginjal, yang menyebabkan natriuresis dan kemudian menyebabkan diuresis.

Kegunaan diuretik pada praktek klinis adalah untuk menurunkan volume cairan ekstraseluler, terutama pada penyakit dengan edema dan hipertensi. Mekanisme dan tempat kerja diuretik dijelaskan pada gambar di atas.

Calcium Corrected Albumin (Rumus)

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 31 Mei 202028 Mei 2020

Calcium Corrected Albumin (Rumus)

Di dalam cairan ekstraseluler, kalsium berada dalam 3 bentuk, yaitu ion Ca bebas, kalsium yang terikat albumin, dan kalsium yang terikat pada anion yang lain atau dalam bentuk garam komplek. Pengukuran kalsium total dalam serum, harus dikoreksi dengan kadar albumin serum dengan persamaan sebagai berikut :

Ca terkoreksi = Ca terukur + 0,8 (4 – kadar albumin)

Sumber : EIMED PAPDI

Navigasi pos

Halaman Sebelumnya

Tentang Kami

medical.internotes adalah tempat berbagi catatan-catatan kedokteran, terutama ilmu penyakit dalam.

Ikuti Kami

medical.internotes

Kategori

  • Alergi Imunologi (5)
  • Endokrin Metabolik (11)
  • Gastroenterohepatologi (8)
  • Geriatri (1)
  • Ginjal Hipertensi (8)
  • Hematologi Onkologi Medik (5)
  • Kardiologi (1)
  • Presentasi (3)
  • Psikosomatik (1)
  • Pulmonologi (3)
  • Reumatologi (3)
  • Rumus/Skor (17)
  • Tropik Infeksi (11)

Tag

Albumin Antibiotik Artritis Rheumatoid Asites Asma Cairan Dehidrasi Demam Tifoid Dengue Hemorrhagic Fever Diabetes Melitus Diuretik DMARD Dobutamin Dopamin Drip Efusi Pleura Elektrolit GERD GERD Q Hipertensi Hipertensi emergensi Hipertensi urgensi Hipertiroid Hiperventilasi Hipokalemia HIV kalsium Kehamilan Ketoasidosis Diabetikum Kriteria Light Kuesioner Metilprednisolon Norepinefrin Pneumothorax Profilaksis Puasa Rehidrasi Sepsis Sirosis Hepatis Sistem Imun Ulkus Duodenum Ulkus Gaster Ulkus Peptikum Vaksinasi white coat hypertension

Arsip

  • Januari 2026 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Juli 2020 (1)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (42)

Notes Terpopuler

  • Rumus/Skor

    Drip Norepinefrin (dengan syringe pump)

  • Rumus/Skor

    Drip Dobutamin (dengan syringe pump)

  • Ginjal Hipertensi

    Hipokalemia dan Cara Koreksinya

QUICK LINKS

  • Beranda
  • Topik
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Bagikan Situs

© Hak Cipta 2020 | medical.internotes |The Ultralight | Dikembangkan Oleh Rara Theme.Ditenagai oleh WordPress.