Lompat ke konten (Tekan Enter)
medical.internotes

medical.internotes

Catatan Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam

  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi
  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Alexander Kam

Sistem Imun Adaptif dan Vaksinasi

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 30 Juni 202030 Juni 2020

Sistem Imun Adaptif dan Vaksinasi

Sistem Imun Adaptif dan Vaksinasi

Sistem imun adaptif dan vaksinasi. Sistem imun adaptif disusun oleh beberapa jenis limfosit dengan masing-masing fungsinya.

Limfosit terdiri dari limfosit B dan limfosit T. Limfosit B nantinya akan membentuk antibodi. Limfosit T terdiri dari T-helper, T-sitotoksik, dan T-regulator. Fungsi masing-masing limfosit dijelaskan pada gambar di atas. Respon sistem imun yang berlebihan akan menyebabkan hipersensitivitas, seperti SLE.

Vaksin terdiri dari vaksin aktif dan pasif. Vaksin aktif menggunakan antigen mikroba yang dilemahkan. Sementara vaksin pasif menggunakan serum antibodi atau limfosit T.

Hipertiroid dalam Kehamilan – Fisiologis dan Patologis

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 6 Juni 20206 Juni 2020

Hipertiroid dalam Kehamilan – Fisiologis dan Patologis

Hipertiroid dalam Kehamilan – Fisiologis dan Patologis. Pada kehamilan terdapat beberapa perubahan faal yang menyangkut fungsi dan status tiroid yaitu terjadinya struma, peningkatan kadar TBG, dan pengaruh hCG.

Kehamilan dan fungsi tiroid merupakan dua hal yang saling mempengaruhi dengan erat, baik pada keadaan fisiologi maupun keadaan patologi. Berbagai perubahan hormonal dan metabolik akan terjadi dalam kehamilan. Secara umum, fungsi tiroid ibu hamil pada kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: peningkatan konsentrasi Human Chorionic Gonadotropin (hCG) yang merangsang kelenjar tiroid, peningkatan eksresi iodium lewat urin yang mengakibatkan penurunan konsentrasi iodium plasma, peningkatan Thyroid Binding Globulin (TBG) pada trimester pertama kehamilan.

Hal ini akan meningkatkan kadar hormon tiroid serum. Peningkatan ini akan diikuti oleh penurunan kadar TSH serum akibat negative feedback pada aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid.

Pada kehamilan terjadi beberapa perubahan pada hormon tiroid. Penyakit autoimun yang paling sering adalah Penyakit Graves. Kejadian Penyakit Graves berkisar antara 1-2 per 1000 kehamilan. Penyebab lain hipertiroidisme dalam kehamilan adalah struma nodosa toksik (Penyakit Plummer), struma multinodosa toksik, tiroiditis, tirotoksikosis gestational, tumor trofoblastik dan mola hidatidosa. Dua kondisi pada kehamilan yang berhubungan dengan hipertiroidisme adalah hiperemesis gravidarum dan penyakit tropoblastik gestasional. Sebanyak 60% perempuan hamil dengan hiperemis menunjukkan gejala hipertiroidisme (tirotoksikosis gestational).

Sumber: Nature Reviews Endocrinology

Diagnosis dan Tatalaksana Ketoasidosis Diabetikum

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 4 Juni 20205 Juni 2020

Diagnosis dan Tatalaksana Ketoasidosis Diabetikum

Ketoasidosis diabetikum (KAD) merupakan kondisi dekompensasi metabolik akibat defisiensi insulin absolut atau relatif dan merupakan komplikasi metabolik akut diabetes melitus yang serius. KAD terjadi bila defisiensi insulin yang berat yang tidak hanya menimbulkan hiperglikemia dan dehidrasi, tetapi juga mengakibatkan produksi keton meningkat serta asidosis metabolik. Diagnosis dan tatalaksana ketoasidosis diabetikum harus dilakukan dengan cepat.

Faktor presipitasi: riwayat pemberian insulin inadekuat, infeksi (pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi intraabdominal, sepsis), infark (serebral, koroner, mesentrika, perifer), obat (kokain), kehamilan.

Diagnosis Ketoasidosis Diabetikum

Anamnesis

Mual/muntah, haus/poliuria, nyeri perut, sesak nafas, gejala tersebut di atas berkembang dalam waktu < 24 jam. Adanya faktor presipitasi.

Pemeriksaan fisik

  • Takikardia
  • Dehidrasi
  • Hipotensi
  • Takipnea
  • Pernafasan Kussmaul
  • Distres pernafasan
  • Nafas bau keton
  • Nyeri tekan perut
  • Letargi atau koma

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan cito : gula darah, elektrolit, ureum, kreatinin, aseton darah, urin rutin, analisis gas darah, EKG

Pemantauan:

  • Gula darah berkala
  • Darah perifer lengkap
  • Ureum dan kreatinin serum
  • Urinalisis
  • Ketonemia dan/ atau ketonuria
  • Elektrolit tiap 6 jam selama 24 jam, selanjutnya sesuai keadaan
  • Analisis gas darah : bila pH < 7 saat masuk ® diperiksa setiap 6 jam s/d pH > 7,1. Selanjutnya setiap hari sampai stabil
  • EKG, bila diperlukan
  • Foto thorax PA, bila diperlukan
  • Pemeriksaan lain (sesuai indikasi) : kultur darah, kultur urin, kultur pus.

Kriteria diagnosis

  • Kadar glukosa > 250 mg/dL
  • pH <7,35
  • HCO3 < 18 mmol/L
  • Anion gap meningkat
  • Ketonemia dan/ atau ketonuria

Tatalaksana Ketoasidosis Diabetikum

Terapi

  • Pemberian cairan. Akses IV 2 jalur, salah satunya dicabang dengan 3 way
  • Menekan lipolisis sel lemak dan menekan glukoneogenesis sel hati dengan pemberian insulin
  • Mengatasi stress sebagai pencetus KAD
  • Mengembalikan keadaan fisiologi normal dan menyadari pentingnya pemantauan serta penyesuaian pengobatan.

Cairan

  • NaCI 0,9% diberikan ± 1-2 L pada 1 jam pertama, lalu ± 1 L pada ja, kedua, lalu ± 0,5 L pada jam ketiga dan keempat, dan ± 0,25 L pada jam kelima dan keenam, selanjutnya sesuai kebutuhan.
  • Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5 L.
  • Jika Na+ serum tinggi, ganti cairan dengan NaCI 0,45%.
  • Jika GD < 200 mg/dL, ganti cairan dengan Dextrose 5%.

Insulin

  • Bolus insulin rapid-acting 0,1 U/kgBB IV, dilanjutkan dengan drip 50 unit insulin rapid-acting dalam 48 cc NaCl 0,9% (syringe pump) mulai kecepatan 2,5 cc/ jam dengan target gula darah 140-180 mg/dl selama 6-12 jam.
  • Jika penurunan gula darah sebagai berikut:
  • GD 25-50 mg/dl: pertahankan dosis sebelumnya
  • GD <25 mg/dl: naikkan dosis insulin
  • GD >50 mgdl: turunkan dosis insulin
  • Jika GD 140-180 mg/dl selama 6 kali berturut-turut, switch insulin ke kebutuhan insulin selama 24 jam (prandial dan basal).
  • 2 jam sebelum stop drip insulin, boluskan insulin basal sesuai kebutuhan.

Kalium

  • Cek kalium serum per 6 jam, koreksi KCl dalam 200 cc NaCl 0,9% habis dalam 4 jam.
  • Bila kadar K+ (mmol/L) pada pemeriksaan elektrolit:
  • < 3,5 : drip KCI 40 mEq
  • 3,5 – 4,5 : drip KCI 20 mEq
  • 4,5 – 6,0 : drip KCI 10 mEq
  • > 6,0 : tidak diberikan

Bikarbonat

  • Jika pH < 6,9: berikan drip 100 mEq natrium bikarbonat
  • Jika pH 6,9 – 7,1:  berikan drip 50 mEq natrium bikarbonat
  • Jika pH > 7,1:  drip natrium bikarbonat tidak diberikan

Tatalaksana umum

  • Terapi oksigen bila PO2< 80 mmHg
  • Pemberian nutrisi yang tepat
  • Antibiotika adekuat
  • Tatalaksana faktor pencetus
  • Pemantauan tanda vital, keadaan hidrasi, balans cairan, dan laboratorium

Daftar pustaka

  • Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Tahapary DL. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktek Klinis. Jakarta: Interna Publishing. 2015
  • Nasution SA, Santoso M, Rachman A, Muhadi M. Buku Panduan Clinical Pathway. Jakarta: Interna Publishing. 2015

Ulkus Peptikum, Gaster, dan Duodenum

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 9 Juni 20203 Juni 2020

Ulkus Peptikum, Gaster, dan Duodenum

Ulkus Peptikum, Gaster, dan Duodenum

Ulkus Peptikum, Gaster, dan Duodenum

Mengutip dari ketua PB PGI, “Dispepsia merupakan salah satu dari berbagai keluhan umum yang dapat ditemui oleh dokter di berbagai bidang, tidak terbatas hanya pada ahli saluran cerna saja dalam praktik kesehariannya.

Pengertian mengenai patofisiologi dispepsia terus berkembang sejak dimulainya investigasi secara ilmiah pada 1980-an sampai sekarang. Saat ini, Helicobacter pylori dianggap sebagai salah satu penyebab penting dalam dispepsia. Pembahasan dispepsia pun harus menghubungkan manajemen infeksi Helicobacter pylori.

Patofisiologi dispepsia sendiri selalu disebutkan terkait dengan faktor agresif vs faktor protektif.

Barthel Index – Activities of Daily Living

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 3 Juni 202031 Mei 2020

Barthel Index – Activities of Daily Living (ADL Barthel):

NoFungsiSkorKeterangan
1Bowels0Inkontinensia
 1Kadang tak terkendali
  2Terkendali teratur
2Bladder0Inkontinensia
 1Kadang tak terkendali
  2Mandiri
3Grooming0Butuh pertolongan orang lain
 1Mandiri
4Toilet use0Tergantung pertolongan
 1Perlu beberapa pertolongan
  2Mandiri
5Feeding0Tidak mampu
 1Perlu pertolongan
  2Mandiri
6Transfer0Tidak mampu
 1Perlu banyak bantuan
  2Perlu sedikit bantuan
  3Mandiri
7Mobility0Imobilitas
 1Tergantung kursi roda
  2Berjalan dengan bantuan
  3Mandiri
8Dressing0Tergantung orang lain
 1Sebagian dibantu
  2Mandiri
9Stairs0Tidak mampu
 1Butuh pertolongan
  2Mandiri
10Bathing0Tergantung orang lain
 1Mandiri

Barthel Index – Activities of Daily Living

Interpretasi:

20: Mandiri

12 – 19: Ketergantungan ringan

9 – 11: Ketergantungan sedang

5 – 8: Ketergantungan berat

0 – 4: Ketergantungan total

Navigasi pos

Halaman Sebelumnya
Halaman Berikutnya

Tentang Kami

medical.internotes adalah tempat berbagi catatan-catatan kedokteran, terutama ilmu penyakit dalam.

Ikuti Kami

medical.internotes

Kategori

  • Alergi Imunologi (5)
  • Endokrin Metabolik (11)
  • Gastroenterohepatologi (8)
  • Geriatri (1)
  • Ginjal Hipertensi (8)
  • Hematologi Onkologi Medik (5)
  • Kardiologi (1)
  • Presentasi (3)
  • Psikosomatik (1)
  • Pulmonologi (3)
  • Reumatologi (3)
  • Rumus/Skor (17)
  • Tropik Infeksi (11)

Tag

Albumin Antibiotik Artritis Rheumatoid Asites Asma Cairan Dehidrasi Demam Tifoid Dengue Hemorrhagic Fever Diabetes Melitus Diuretik DMARD Dobutamin Dopamin Drip Efusi Pleura Elektrolit GERD GERD Q Hipertensi Hipertensi emergensi Hipertensi urgensi Hipertiroid Hiperventilasi Hipokalemia HIV kalsium Kehamilan Ketoasidosis Diabetikum Kriteria Light Kuesioner Metilprednisolon Norepinefrin Pneumothorax Profilaksis Puasa Rehidrasi Sepsis Sirosis Hepatis Sistem Imun Ulkus Duodenum Ulkus Gaster Ulkus Peptikum Vaksinasi white coat hypertension

Arsip

  • Januari 2026 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Juli 2020 (1)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (42)

Notes Terpopuler

  • Rumus/Skor

    Drip Norepinefrin (dengan syringe pump)

  • Rumus/Skor

    Drip Dobutamin (dengan syringe pump)

  • Ginjal Hipertensi

    Hipokalemia dan Cara Koreksinya

QUICK LINKS

  • Beranda
  • Topik
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Bagikan Situs

© Hak Cipta 2020 | medical.internotes |The Ultralight | Dikembangkan Oleh Rara Theme.Ditenagai oleh WordPress.