Lompat ke konten (Tekan Enter)
medical.internotes

medical.internotes

Catatan Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam

  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi
  • Beranda
  • Topik
    • Alergi Imunologi
    • Endokrin Metabolik
    • Gastroenterohepatologi
    • Geriatri
    • Ginjal Hipertensi
    • Hematologi Onkologi Medik
    • Kardiologi
    • Psikosomatik
    • Pulmonologi
    • Reumatologi
    • Tropik Infeksi
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Mei 2020

Sepsis dan Penghitungan Skor SOFA

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 30 Mei 202012 Mei 2020
Sepsis dan Penghitungan Skor SOFA

Sepsis dan Penghitungan Skor SOFA.

Pada tahun 1991, sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi disertai terpenuhinya kriteria Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS).

Pada tahun 2016, melalui The Surviving Sepsis Campaign (SSC), definisi sepsis diperbaharui menjadi disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabakan oleh disregulasi respon tubuh terhadap infeksi.

Perubahan definisi ini tentu saja membawa perubahan kriteria diagnosis sepsis. Saat ini digunakan skor qSOFA sebagai skrining awal dan skor SOFA sebagai standar diagnosis.

Selain memperbaharui definisi sepsis, SSC juga memperbaharui tatalaksana sepsis dalam satu jam pertama.

Diabetes Insipidus dan Peran ADH

oleh Alexander Kamdiperbarui pada 30 Mei 202012 Mei 2020

Diabetes insipidus dan peran ADH

Diabetes Insipidus dan Peran ADH

Diabetes Insipidus dan Peran ADH

Diabetes Insipidus dan Peran ADH

Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. Penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat mengganggu mekanisme neurohypophyseal-renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkonversi air. Kebanyakan kasus-kasus yang pernah ditemui merupakan kasus idiopatik yang dapat bermanifestasi pada berbagai tingkatan umur dan jenis kelamin.

Mekanisme ekskresi air

Dalam mengatur eksreksi air, ginjal mengikutsertakan mekamisme neurohypophyseal-renal reflex. Komponen humoral dalam mekanisme ini adalah ADH yang disebut juga dengan arginin vasopresin (AVP). AVP disintesis oleh suatu molekul prekursor dalam nukleus supraoptik, paraventrikular dan sedikit pada nukleus filiformis hipotalamus.

Mekanisme haus

Peningkatan osmolalitas plasma akan merangsang pusat haus, sebaliknya penurunan osmolalitas plasma akan menekan pusat haus. Ambang rangsang pusat haus (295 mOsmol/kg berat badan) ternyata lebih tinggi daripada ambang rangsang osmotik pelepasan AVP (280 mOsmol/kg berat badan). Hal ini merupakan perlindungan terhadap deplesi air.

Mekanisme aksi seluler, konsentrasi dan dilusi ADH

Mekanisme pastinya belum jelas. Kemungkinan setelah dilepaskan oleh hipofisis posterior, ADH masuk ke dalam sirkulasi ginjal dan terikat pada reseptornya di collecting duct.

ADH meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan collecting duct terhadap air sehingga dapat berdifusi secara pasif akibat adanya perbedaan konsentrasi.

Jika ADH tidak disekresi, misalnya pada orang yang terhidrasi baik, struktur-struktur distal tetap tidak permeabel terhadap air. Dengan demikian, sewaktu urin yang hipotonis melewati tubulus distal, Na akan lebih banyak dikeluarkan sehingga osmolalitas urin semakin berkurang.

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi keenam, 2014

Hiponatremia dan Cara Koreksinya

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 30 Mei 202012 Mei 2020
Hiponatremia dan Cara Koreksinya

Hiponatremia dan Cara Koreksinya.

Hiponatremia

Hiponatremia adalah kelebihan cairan relaatif yang terjadi bila jumlah asupan cairan melebihi kemampuan ekskresi dan ketidakmampuan menekan sekresi ADH, misalnya pada kehilangan cairan melalui saluran cerna, gagal jantung, dan sirosis hati atau pada SIADH (syndrome of inappropiate ADH-secretion).

Berdasarkan prinsip tersebut, maka etiologi hiponatremia dapat dibagi atas:

  • Hiponatremia dengan ADH meningkat
  • Hiponatremia dengan ADH tertekan fisiologik
  • Hiponatremia dengan osmolalitas plasma normal atau tinggi

Hiponatremia akut

Hiponatremia akut adalah kejadian hiponatremia yang berlangsung cepat, yaitu kurang dari 48 jam. Pada keadaan ini, akan terjadi gejala yang berat seperti penurunan kesadaran dan kejang. Hal ini terjadi akibat edema sel otak, karena air dari ekstrasel masuk ke intrasel yang osmolalitasnya lebih tinggi.

Hiponatremia kronik

Hiponatremia kronik adalah kejadian hiponatremia yang berlangsung lambat, yaitu lebih dari 48 jam. Pada keadaan ini, tidak terjadi gejala yang berat, seperti penurunan kesadaran atau kejang (ada proses adaptasi). Gejala yang timbul hanya ringan seperti lemas atau mengantuk. Pada keadaan ini, tidak ada urgensi melakukan koreksi konsentrasi natrium. Terapi dilakukan dalam beberapa hari dengan memberikan larutan garam isotonik.

Hiponatremia dan Cara Koreksinya

Kasus hiponatremia akut dengan kadar Na serum 120 mmol/L, pada pasien dengan berat badan 50 kg. Pada pasien ini dalam 1 jam pertama dibutuhkan kenaikan Na serum sebesar 5 meq. Kebutuhan Na nya adalah = 0,5 x BB x 5 = 125 meq. 500cc NaCl 3% setara dengan 250 meq. Jadi kebutuhan pada pasien ini adalah 125 / 250 x 500cc = 250cc NaCl 3%

Kasus hiponatremia kronik dengan kadar Na serum 114 mmol/L, pada pasien dengan berat badan 60 kg. Jika kita menargetkan Na serum pasien adalah 130 mmol/L, maka dibutuhkan kenaikan Na sebesar 16 meq. Peningkatan Na serum pada hiponatremia kronis maksimal 8 meq/ 24 jam. Sehingga untuk menaikkan Na sebesar 16 meq, dibutuhkan waktu 48 jam. Total kebutuhan Na nya adalah = 0,5 x BB x 16 = 480 meq diberikan dalam 48 jam. Jadi kebutuhan pada pasien ini adalah 480 / 250 x 500cc = 960cc NaCl 3% habis dalam 48 jam.

Sumber: Gangguan keseimbangan air-elektrolit dan asam-basa, FKUI.

Penyakit Ginjal Kronik dan Indikasi Hemodialisis

oleh Randa Fermadadiperbarui pada 30 Mei 202012 Mei 2020

Penyakit Ginjal Kronik dan Indikasi Hemodialisis

Penyakit Ginjal Kronik dan Indikasi Hemodialisis

Penyakit Ginjal Kronik dan Indikasi Hemodialisis

Penyakit ginjal kronik (PGK) saat ini sudah menjadi epidemi global dan prevalensinya sangat meningkat di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang. Sebagian besar pasien PGK mengalami kematian akibat komplikasi kardiovaskuler. Saat ini, diperkirakan terdapat 100.000 pasien yang memerlukan pengobatan pengganti ginjal di Indonesia. Hal ini merupakan masalah besar mengingat tingginya risiko komplikasi, morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler, serta biaya pengobatan yang sangat tinggi.

Hemodialisis (HD) masih merupakan terapi pengganti ginjal utama di samping peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal di sebagian besar negara di dunia. Terdapat lebih dari 2 juta pasien saat ini menjalani HD di seluruh dunia. Kebutuhan akan dialisis yang tinggi menyebabkan pertumbuhan unit dialisis yang cepat di seluruh Indonesia.

Prinsip hemodialisis

Hemodialisis dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengubahan komposis darah oleh larutan lain (cairan dialisat) melalui membran semipermeabel (membran dialisis). Saat ini, terdapat berbagai definisi hemodialisis, tetapi pada prinsipnya hemodialisis adalah suatu proses pemisahan atau penyaringan atau pembersihan darah melalui suatu membran yang semipermeabel yang dilakukan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal baik yang kronik maupun akut.

Hemodialisis merupakan gabungan dari proses difusi dan ultrafiltrasi. Indikasi hemodialisis dapat dilihat dari gambar di atas.

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi keenam, 2014

1

Sistem Skor untuk Diagnosis DIC

oleh Dela Jalmasdiperbarui pada 30 Mei 202010 Mei 2020

Sistem Skor untuk Diagnosis Koagulasi Intravaskuler Diseminata/ DIC

PemeriksaanHasilSkor
Hitung trombosit>100.000/mL0
 50.000-100.000/mL1
 <50.000/mL2
D-dimerTidak ada kenaikan0
 Kenaikan sedang1
 Kenaikan berat2
Perpanjangan PT<3 detik0
 3-6 detik1
 >6 detik2
Kadar fibrinogen>1,0 g/L0
 <1,0 g/L1

Total skor besar sama 5 sesuai dengan diagnosis KID.

Koagulasi Intravaskuler Diseminata/ DIC

Koagulasi intravaskuler diseminata (DIC) merupakan sindrom klinikopatologi yang didapat, ditandai dengan aktivasi sistem koagulasi yang mengakibatkan gangguan pasokan darah ke organ maupun perdarahan, sebagai akibat konsumsi trombosit dan faktor koagulasi.

DIC bukanlah suatu penyakit. Namun, merupakan manifestasi sekunder dari proses patologi yang mendasari seperti infeksi, trauma, kanker, dan kegawatdaruratan di bidang obstetri.

Sistem Skor untuk Diagnosis DIC

Definisi DIC menurut subkomite SSC dari ISTH (Scientific and Standardization Committee of the International Society on Thrombosis and Hemostasis): DIC adalah suatu sindrom yang didapat, ditandai oleh aktivasi koagulasi intravaskuler secara luas (tidak bersifat lokal) yang muncul dari berbagai sebab yang berbeda. DIC bisa dimulai dari dan akan menyebabkan kerusakan mikrovaskuler, dan apabila cukup berat dapat mengakibatkan disfungsi organ.

DIC selalu bersifat sekunder terhadap kondisi patologik lain yang mendasari. Diagnosis DIC didasarkan atas gambaran klinik dan temuan laboratorium. Tidak ada pemeriksaan laboratorium tunggal untuk konfirmasi diagnosis DIC.

Salah satu cara dengan menggunakan skor diagnostik dari tes koagulasi yang bisa dilakukan secara luas. Jumlah skor 5 atau lebih sesuai diagnosis DIC overt.

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keenam, 2014

0

Navigasi pos

Halaman Sebelumnya
Halaman Berikutnya

Tentang Kami

medical.internotes adalah tempat berbagi catatan-catatan kedokteran, terutama ilmu penyakit dalam.

Ikuti Kami

medical.internotes

Kategori

  • Alergi Imunologi (5)
  • Endokrin Metabolik (11)
  • Gastroenterohepatologi (8)
  • Geriatri (1)
  • Ginjal Hipertensi (8)
  • Hematologi Onkologi Medik (5)
  • Kardiologi (1)
  • Presentasi (3)
  • Psikosomatik (1)
  • Pulmonologi (3)
  • Reumatologi (3)
  • Rumus/Skor (17)
  • Tropik Infeksi (11)

Tag

Albumin Antibiotik Artritis Rheumatoid Asites Asma Cairan Dehidrasi Demam Tifoid Dengue Hemorrhagic Fever Diabetes Melitus Diuretik DMARD Dobutamin Dopamin Drip Efusi Pleura Elektrolit GERD GERD Q Hipertensi Hipertensi emergensi Hipertensi urgensi Hipertiroid Hiperventilasi Hipokalemia HIV kalsium Kehamilan Ketoasidosis Diabetikum Kriteria Light Kuesioner Metilprednisolon Norepinefrin Pneumothorax Profilaksis Puasa Rehidrasi Sepsis Sirosis Hepatis Sistem Imun Ulkus Duodenum Ulkus Gaster Ulkus Peptikum Vaksinasi white coat hypertension

Arsip

  • Januari 2026 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Juli 2020 (1)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (42)

Notes Terpopuler

  • Rumus/Skor

    Drip Norepinefrin (dengan syringe pump)

  • Rumus/Skor

    Drip Dobutamin (dengan syringe pump)

  • Ginjal Hipertensi

    Hipokalemia dan Cara Koreksinya

QUICK LINKS

  • Beranda
  • Topik
  • Rumus/Skor
  • Presentasi

Bagikan Situs

© Hak Cipta 2020 | medical.internotes |The Ultralight | Dikembangkan Oleh Rara Theme.Ditenagai oleh WordPress.